Saturday, 4 November 2017

Perancis gak cuma Paris : Jalan-jalan di pinggir Perancis

Siapa yang gak tahu menara Eiffel? Salah satu dari 7 keajaiban dunia itu memang pasti masuk dalam daftar must visit kalau berkunjung ke Eropa. Namun, sebetulnya Perancis bukan cuma Paris aja melainkan banyak banget tujuan wisata yang sayang untuk dilewatkan. Orang bilang bahkan countryside Perancis punya banyak tempat yang unyu-unyu cute bagus gitu. Kali ini, saya mau share pengalaman arrange #tiwiidhamtrip di French Riviera, Chamonix, dan Annecy. Well, kalau belum pernah dengar sebelumnya, wajar kok! Tapi bukan berarti tempatnya biasa aja ya.. Malah, kami lebih suka tempat-tempat ini dibandingkan dengan Paris itu sendiri.

Kami pun arrange sendiri tanpa ikut tur. Hal ini sangat memungkinkan kita jalan santai, sesuka kita, dapat tempat nginep yang nyaman, pilih moda transportasi yang bukan bus, namun tetap murah. Percaya deh. Ga kalah murah sama student trip macam pm2am atau wanderlust student trip. Kami gak mau naik bus karena saya tukang mabok. Selain itu, kalau ada pesawat yg cepat kenapa mesti naik bus yang lama. Tips jalan-jalan murah di Eropa bisa dibaca di sini.

Nice - Eze Village
Sebetulnya pilihan tempat ini gak sengaja karena pengennya cari tiket murah aja buat liburan. Ke mana aja asal murah dan bagus serta ga bikin bosen. Walau tujuannya ke Annecy sih sebetulnya, cuman agak mahal karena mesti ke Geneva. Cari-cari, nemu lah tiket murah dari Amsterdam ke Nice. Dan dari Nice ke Geneva pun murah meriah. Pas buangets. Well, walau sudah late autumn mendekati early winter, kenapa ngga ke French Riviera yang pasti udaranya masih anget dan katanya tempatnya kece. French Riveria atau Côte d'Azur itu sendiri merupakan bagian dari pantai Mediterania Perancis (Perancis Selatan).

Keuntungan jalan-jalan di French Riviera adalah kemana-mana dekat. Sehingga, ga boros waktu. Kamu bisa ke Eze Village dan juga Monaco (negara tetangga yang nyempil itu) dalam kurun waktu satu sampai dua jam (diluar jalan-jalan) dari Nice. Dekat kan? Nah, karena kami cuma punya waktu sehari banget, jadi ya ga ngoyo lah, syukur kalau bisa ke Monaco, kalau ngga ya gapapa karena sama aja sih view nya kayak Nice.

Transportasi di Nice dan sekitarnya pun sangat mudah dan murah. Dan informasinya sangat lengkap mulai dari airport transfer di sini sampai bus lainnya di sini (nemu blog orang yang lengkap all about Nice). Kamu bisa baca sendiri ya. Nah. Tapi karena mau cari irit, dan sekedar bagi tips ajah, kalau dari airport ke tengah kota, mending pilih bus biasa (bukan airport express bus). Cuma 1.5 euro ajah. Dari Nice Côte d'Azur Airport agak ke depan airport sedikit, ga perlu nyebrang, belok kanan nemu halte bus. Dan naiklah bus sesuai tujuan kamu. Planner handy di handphone tersedia dalam aplikasi Nice ligne d'azur mobile. Sebetulnya kalau mau ke Agence Lignes d'Azur Thiers dekat Gare de Nice Ville sih enak banget bisa pesan kartu yang all day 5 euro. Tapi karena antri nya panjang waktu itu, kami jadinya lanjut jalan aja beli on boardpay as you go karena murah juga tiketnya (1.5 euro sekali jalan) dan ga mau ke banyak tempat. InsyaAllah tetap murah lah.

Penginapan di Nice relatif murah. Kami nginap di hotel Saint Gothard bintang dua, tapi lumayan bersih dan dekat sekali sama Gare de Nice Ville (Stasiun Central). Dari sini pun dekat dengan Cathédrale Orthodoxe Russe St Nicolas. Kami pun jalan kaki aja karena ga jauh.


Setelah itu kami mau foto di pantai Nice yang main-stream itu view dari atas, tapi agak bingung nih ke mana, katanya sih ke Castle Hill (Castle of Nice) atau apalah itu namanya. Kami pasang gmaps menuju ke daerah Colline du Château. Ternyata kami gak sengaja nemu Monument aux Morts yang sepanjang jalan menuju itu, kami lewatin port yang kayak di Monaco dan tulisan I love Nice. Haha.



Jadi saya sebetulnya masih bingung juga itu Castle Hill nya di mana. Walaupun di gmaps tertera : Le Cheteau. Dan hmpfht yah walau bingung, alhamdulillah dapat juga view nya walaupun ogah naik ke point view yang lebih tinggi karena capek. Kami akhirnya cukup bersyukur bisa lihat pantai Nice yang ternama itu :D


Setelah itu kami menuju ke Eze Village. Agak nyasar juga karena kami pengenya dari Vauban tapi Lignez d'Azur app sarankan kita pergi dari Boyer. Setelah makan eskrim dulu, kami pun naik bus menuju Eze Village. Hanya bayar 1.5 euro lagi. Sampai di Eze Village, memang lucu banget ya village nya. Kayak di film gitu. Dari mulai masuk pintu gerbang village nya aja udah seneng. Tapi jalan menanjak. Jadi persiapkan energi. Hehe.






 Le Jardin exotique d'Eze
Oiya, di Jardin exotique d'Eze kita harus bayar tiket masuk. tapi, kalau student hanya bayar setengah harga. 3.5 euro ajah. Siapkan kartu mahasiswa yah, karena kalau ga tetp harga normal.

Udah capek nanjak dan menikmati (hampir) sunset di puncak Eze, jadinya langsung pulang deh. Gak ke Monaco. Sayang sekali jadwal bus ga cocok, jadi naik bus dulu ke Eze Central Station lalu naik kereta. Tapi murah lah, kereta sekitar 6/7 euro berdua lah dari Eze ke Nice Ville.

Sebagai info tambahan juga, kalau naik uber dari tengah kota ke airport pagi hari bisa nambah harganya. Menurut info beredar sekitar 16-20 euro (beda dikit sama bus express) tapi saya kena 26 euro (berdua). Hiks, dua kali lipat bus express. Kalau rame-rame mending sih naik uber ya. Yaudah lah ya. Risiko flight pagi buta dan demi tiket pesawat murah ke Geneva!



Geneva - Chamonix - Annecy
Kabar baiknya adalah setiap arrival di Geneva Airport, kita dapat tiket public transport gratis selama 70 menit muter-muter Geneva. Mesin tiket ada di dekat claim baggage. Katanya harus tunjukan boarding pass, tapi kami tinggal pencet langsung keluar tiket gratisnya. Karena kami cuma punya waktu 1.5 jam di Geneva, jadi memutuskan untuk berkunjung ke Gedung UN, Palais de Nation saja. Tapi ternyata sebrangnya ITU (International Telecommunications Union). Suamiku seneng banget. Haha. Cuma 13 menit dari airport naik Bus No. 5. Begitu pula sebaliknya. Efektif dan efisien. Sebetulnya ada air mancur itu loh di Lake Geneva, cuman gak sempat.




Tiwi dan Calon Kantor :D

Idham dan Calon Kantor :D
Ke Chamonix kami naik Bus dari Geneva airport. Bagi yang mau excursion (jadi pp Geneva-Chamoonix-Geneva) juga bisa kok. Tapi ngapain, nginep di Geneva kan mahal. Hehe. Nah, kami naik swiss tours dari goeuro ini loh. Perjalanan juga cepat dan nyaman, ga mabok karena naik elf. Chamonix pun bagus banget! Kami naik cable car dengan harga 60 euro seorang. Puncaknya bernama Aiguille Du Midi 3842 mdpl! Dibanding Jungfrau dan Titlis yang mahal itu, ini merupakan puncak tertinggi dan tergolong murah. Seneng kan.







Oiya, mending sebelum naik cable car ke atas, makan dulu yang kenyang. Selain buat simpanan energi, di atas mahal banget. Huks. Di dekat Bus Station, ada restoran turki halal dan lumayan enak. Masa rasanya mirip McD di Indonesia. Haha. Beli minum juga di bawah aja lah. Di atas tap waternya hangat jadi ga bisa di minum, sedangkan kalau beli mahal. Hehe.

Setelah puas dengan magical sunset, kami menuju Annecy. Sampainya malam sih, tapi untungnya kami dapat hotel dekat sekali dengan Gare SNCF (Central Station). Hotelnya cantik dan lumayan murah-mahal haha. Karena hotel di Annecy mahal deh, tapi lebih murah dibanding Geneva. Kami naik Oui Bus jadwal 19.40. Sebagai trick untuk jalur trip ini, memang gak perlu habisin waktu lama-lama di Chamonix, apalagi Annecy. Chamonix memang seharian sih, tapi ga perlu nginap lah, langsung aja ke Annecy. Kalau beruntung, kamu bisa langsung cabut dari Annecy siang ke Geneva untuk catch flight ke tempat selanjutnya. In our case, kami pulang hari yang sama dengan hari mengeksplrasi Annecy!

Annecy punya daya tarik sendiri bagi saya di kala pagi. Hehe. Bagus banget. Matahari nya sangat bersahabat kala itu. Kami sih cuma pengen lihat Le Palais de I'lle dan Pont des Amours. Namun, di tengah perjalannya kami nemu sudut-sudut indah yang mirip italy yang unyu-unyu itu loh.

Area Chateau yang gak tahu namanya apa

Le Palais de I'lle



Pont des Amours
Lago de Annecy
Nah. Setelah puas dengan Lake Annecy ini, kami bergegas menuju Geneva lagi dengan Bus lokal - Altibus yang bisa dilihat jadwalnya dan harganya di sini.

Huwaaw. Pokoknya senang sekali #tiwiidhamtrip kali ini berjalan lancar dan bikin hepi. Alhamdulillah. So, percaya deh, Perancis gak cuma Paris!


Monday, 11 September 2017

Yakin, Kuliah di Luar Negeri?

Hey, hey, tidak seperti biasanya saya share informasi melalui platform ini, jangan kaget kalau pada kesempatan kali ini saya mau share informasi juga sih, tapi dalam bentuk curhatan. Oops. Saya ga yakin banyak yang baca (ga kayak kalau review vendor nikahan, haha!) jadi saya pede aja nulis curhatan ini. Lagi pula namanya juga blog: personal diary ga sih? Suka-suka lah ya mau diisi apa hehe

Begini.. Akhir-akhir ini saya memang sensitif sekali karena homesick. Ya, saya akui saya mungkin homesick karena sudah sebulan lebih ga ketemu suami karena cintakuwh mentok di visa. Menyakitkan memang (halah) apabila biasanya sebulan sekali bisa ketemu, tapi karena kesibukan disertasi suami dan unfortunately visa saya habis periodenya kami harus menundanya sampai minggu ini aja dong plis! Semoga cepet granted ya visa saya, aamiin. Setiap hari melow galaw gitu deh ceritanya. Hal ini sangat mengganggu saya, terlebih lagi saya jadi sering curhat aneh-aneh ga jelas di instastory, haha ya memang instagram adalah satu-satunya (dulu) platform yang masih saya gunakan untuk posting foto, curhat di instastory, kepoin orang hehe. Path udah bhay. Twitter juga. Facebook sudah saya set untuk postingan pribadi ajah jadi di timeline ga ada yang baru untuk publik. Dan karena sekali lagi sering curhat di social media itu mengganggu saya secara pribadi, karena space yang terlalu terbatas, padahal saya mau menumpahkan semuanya haha aneh. Kan ganggu dan terkesan galau banget. Gak kece deh. Nah. Sekarang akhirnya deactivate account instagram juga deh. Walaupun untuk kepo raisa-hamish dan bella-emran serta kirana tak lupa gempita saya masih pakai akun IG suami saya. Ya seenggaknya ga tergerak hati buat curhat karena bukan akun saya lah ya.

Karena alasan kesensitivitasan meningkat, saya pun merasa bahwa saya jadi sering sekali merenung. yang saya renungi tentu keputusan saya yang mengakibatkan semua kegundahan ini terjadi yaitu: Kuliah di Luar Negeri.

Seingat saya, keinginan yang satu ini sudah ada di salah satu resolusi yang saya tulis dari bangku SMP. Walaupun dulu cuma tau Oxford dan Harvard University (tunggu, jangan-jangan cuma tau Oxford) jadilah saya tulis mau sekolah di SMAN 8 Jakarta, Universitas Indonesia, dan Oxford University. Keinginan iu menguat setelah masuk SMA, karena banyak teman-teman mau kuliah di Singapura dan Jepang yang nge-trend di kalangan anak-anak pinter di SMA itu. Ditambah dengan buku novel yang sering saya baca, ada Andrea Hirata, Muhammad Assad, terus juga kebanyakan nonton film barat kali ya. Lalu, sampai akhirnya saya harus cari kerja. Sadar kemampuan diri yang terbatas bahkan di bidang saya sendiri karena kuliah S1 kayaknya taken for granted ajah, bahasa inggris pas-pasan. Udah gede, tapi belom pernah lepas dari orang tua (di depok terus cyin), kerjaannya ngojek terus manjah, ngaret terus, kerja kadang suka telat (ya abis sebel disuruh lembur terus, lah curhat lagi), malu gak bisa masak, kalau dilamar orang gimana haha dan sebagainya. Di situ saya merasa kualifikasi saya ini sepertinya memang butuh ilmu tambahan. Ilmu tentang ilmu dan ilmu tentang hidup. Yes. Sesimpel itu kayaknya pengen jadi orang yang lebih baik dari segi ilmu dan segi hidup (yang sedikit berantakan itu). Pengen jalan-jalan? Ya emang itu udah prinsip ajah dari dulu ga pernah mau jalan-jalan kalau ga murah meriah.

Setelah alhamdulillah terkabul bisa mendapat nikmat sekolah di SMAN 8, UI, dan akhirnya Oxford Wageningen University and Research, pertanyaannya adalah: apakah semua motivasi kuat dari diri menjadi lebih baik dan segala romantisme masa remaja itu cukup untuk membuat saya bertahan menjalani kuliah di luar negeri? Saya bisa dengan yakin menjawab tidak.

Nyatanya, apabila segala jerih payah yang kamu lakukan demi sebuah cita-cita mulia menuntut ilmu sampai ke negeri China selalu gagal, kamu hanya perlu bersabar menunggu besok ajah. Bisa jadi gagalnya upaya kamu karena kamu disuruh kerja dulu ajah menikmati pahit getirnya Jakarta, ya kalau kerja di Jakarta sih ya. Wakakak. Well, kalau ga kerja di jakarta, ya kamu harus sabar dengan ujian lengangnya waktu mungkin? Mungkin loh ya. Tapi kerja di Jakarta memang keras sih menurut saya, demi keluarga dan tabungan dunia akhirat, ya mau ga mau harus kerja aja dengan sabar, hari demi hari menunggu jadwal daftar beasiswa selanjutnya. Hari-hari itu indah juga sih, bisa nabung nyicil mobil, rumah, atau nabung buat mahar lamar anak orang, atau sekedar nikmatin semua jajanan hitz Go Food sukur-sukur patungan sama aktivis-aktivis lain buat majuin foundation sendiri!

Nyatanya, apabila angan-angan kuliah di universitas impian harus berbelok ke universitas sebelah, kamu hanya perlu bersabar menjalaninya. Ya sambil lirik-lirik peka ajah. Jangan-jangan bisa ketemu jodoh ya ga sih? Hmm atau bisa jadi karena nanti anak kamu bakal lahir di situ. Ya namanya juga misteri ilahi. Kita bisa atur apa? Kayaknya sih ngga bisa.

Nyatanya, kalau semua orang meragukan keputusanmu untuk melangkah lebih maju hanya karena katanya mereka lebih berpengalaman, meragukan kemampuanmu, meragukan pilihanmu adalah hal yang baik bagimu karena mereka paling tahu segala hal, merasa bahwa kamu akan berburu dengan waktu, lelah, depresi, dan tak kuasa menanggung rindu cuma karena mereka peduli terhadapmu. Kalau semua orang sepertinya begitu, kamu hanya perlu bersabar. Bisa jadi mereka salah. Kalaupun semua benar adanya, hmmm well, siapa yang lebih tahu dari Maha Tahu dan Maha Pemberi Jalan Hidup?

Nyatanya, kalau akhirnya setelah mulai kuliah, baru hari pertama kamu sudah menyesal memutuskan kuliah lagi. Selamat, anda beruntung, karena ada juga orang yang di pesawat menuju belanda nangis kalau bisa ga jadi kuliah. Tapi orang yang nangis di pesawat itu juga lebih beruntung dibanding seseorang yang baru sampai Soekarno-Hatta Airport aja udah sedih, kalau bisa keluarganya ikut juga. Mereka adalah orang-orang yang harus bersabar dan menunggu beberapa bulan saja untuk bisa merasakan homesick yang lebih buruk lagi di depan sana. Haha.

Nyatanya, misalkan kamu sudah bisa menerima semua dengan tenang dan siap menatap buku-buku dan studi kasus yang aneh-aneh, jangan sedih jangan stress karena kamu akan ketemu teman-teman diskusi yang batu-batu yang bikin tambah stress, mentor yang sok tahu yang bikin tambah pucing. Sabar. Karena kamu pasti akan bisa melewatinya. Kamu pasti bisa, hanya kurang percaya diri dan belum kuat mental ajah. Ga usah dipikirin. Besok juga ketemu lagi yang lebih aneh dan bikin tambah pressure nya. Lebih parah, bayang-bayang re-sit atau re-exam atau remed men. Lebih parah lagi lagi dan lagi, kalau kampus ga ada gituan, ya bisa aja anuan. Bhay aja di kick. Lebih serem dari cerita horor.

Nyatanya, kalau kamu berharap bisa bersosialisasi dengan bule atau keluarga Indonesia di tempat kamu merantau biar ga kesepian, tapi akhirnya kamu menemukan diri kamu lebih nyaman dengan duniamu sendiri, kamu frustasi kenapa malah hal seperti itu yang terjadi, kamu harus lebih banyak bersabar. Bisa jadi, itu adalah tindakan preventif membuat homesick lebih parah. Merasa klausa puitis "kesepian di tengah keramaian" bukan hanya ada di lagu-lagu galau tapi nyata dalam hidup kamu? Mungkin saja, benar-benar sendiri lebih baik dari pada kamu kongkow-kongkow tapi malah bisa bikin video klip galau gitu.

Nyatanya, bahkan udah pusing sama urusan-urusan itu, social pressure untuk mau ngapain habis lulus juga datang dari segala penjuru. Ekspektasi-ekspektasi yang begitu tinggi itu terkadang melupakan bahwa lulusan luar negeri juga manusia. Lah, tapi ini belum lulus juga sih, sabar dikit joss.

Dan. Ternyata, kalau tugas akhir semakin membuat kamu kangen semuanya, membuatmu hampir putus asa karena harus rombak proposal gara-gara supervisor juga (kayaknya) bingung mau di bawa ke mana hubungan proyek kita, membuat kamu gatau lagi mau nulis apa, buntu ide, merasa bosan setiap hari ngerjain itu lagi-itu lagi, ketemu problem itu lagi-itu lagi. Bersabar. Nulis yang lain aja dulu, curhat di blog juga bisa. Gak dosa.

Jadi, sesungguhnya kuliah di luar negeri merupakan sebuah ujian yang kuncinya adalah satu. Bersabar. Sabar ini harus dimulai dari saat pertama kamu berani mendeklarasikan keinginanmu, berusaha mencapainya, dan bersusah payah menyelesaikannya. Punya track record bagus, motivasi kuat saja tidak cukup. Apabila kantung-kantung (atau kantong-kantong sih?) sabar kamu masih kurang spacious, investasikan mulai saat ini untuk menambah kapasitasnya. Minta terus kepada Allah yang memberikan kekuatan untuk bersabar.

So, yakin kuliah di luar negeri?
_________________________
Well, rencananya tulisan ini adalah satu pengantar untuk series tulisan lainnya: informasi kuliah. Nantikan ya?

Friday, 11 August 2017

Jalan-jalan ke Durdle Door dan Lulworth Cove - UK

Hey! Jumpa lagi, setelah kayaknya lama ga nulis cerita-cerita gitu karena nulis tesis muluk. Eaaa. #curhatdongmah

Nah kali ini, saya mau share trip yang bakal fun banget dan ga nyesel kalau dilakukan, yaitu jalan-jalan ke Durdle Door! Cuma 2 jam dari London Paddington, kamu bisa menikmati indahnya pantai bertebing kayak di Indonesia. Di Eropa ini rata2 bosen kan ya gedung-gedung klasik, canggih, atau mungkin alam yang bagus tapi tetep aja rindu pantai ga sih? Nah, banyak banget yang mengira apabila ke Durdle Door mesti pakai mobil padahal tidak. Justru kalau kamu pergi summer gitu, naik kereta lebih praktis dan enak karena daylight juga panjang kan. Apalagi bagi kamu yang sibuk kerja atau kuliah dan ga punya waktu banyak. Harganya pun terjangkau, kalau beruntung bisa dapat kereta 50 GBP berdua PP. Lumayan kan. Katanya sih, kalau beli on the spot sekitar 16 GBP sekali jalan. 

Nah! Pertama-tama, saya mau kasih tips kalau pergi ke Durdle Door, mending sekalian ke Bournemouth. Rute yang bisa diambil adalah London Paddington - Wool - Bournemouth - Paddington. Sebagai gambaran, kalau kita pergi naik kereta ke Wool melewati Bournemouth jadi bisa aja sejalan ga perlu berlawanan arah. Setelah sampai Wool station, bisa naik bus yang lama ituh dan muter2, atau naik taxi 16 pounds ajah muat ber 6-8 orang. Jangan sedih jangan khawatir, kalau pergi berdua, bs aja ajakin orang yang ketemu di station untuk share. Kami ketemu dua orang lainnya yang menawarkan diri buat share taxi, jadi ber4 waktu itu dan cukup terjangkau lah karena cepat serta ga usah nyasar.

Setelah itu, kamu bisa ke Durdle door explore pantainya yang berbatu dan bertebing. Bagus banget loh. Jangan lupa explore setiap bukit yang bisa dinaikin, atau bs ditidurin guling2 kalau datar, asal hati-hati ajah. Hepi deh, kami waktu itu cerah jadi cantik banget. Setelah puas, kamu bisa lanjut ke Lulworth Cove. Nah, ini merupakan tempat yang ga diduga. Kami ga berencana ke tempat ini, tapi ternyata dekat sekali dan bagus banget. Kami waktu itu pilih ke lulworth cove dulu lalu ke durdle door karena penasaran, tapi menurut saya sih mending ke durdle door dulu karena di lulworth cove ada toko ice cream dan juga tempatnya syahdu banget kalau mau duduk2. Tergantung sih ya, pilih mana sesuai selera. Oiya, perjalanan dari durdle door - lulworth cove itu menurun, sebaliknya lulworth cove - durdle door menanjak tajam. Nah, saya pikir mungkin saja bisa pesan taxi pulangnya ke lulworth cove, walau mungkin fare nya beda ya karena taxi menggunakan argo. 

Bukit luas antara Durdle door dan Lulworth Cove




Pemandangan Trekking dari Durdle Door ke Lulworth Cove


Lulworth Cove
Durdle Door and the flowers

Durdle Door

Jurrasic Coast, Dorset

Setelah puas dengan durdle door dan lulworth cove, kamu bisa menuju station wool lagi dan menuju Bournemouth. Berbeda dengan Wool, Bournemouth sudah ramai sehingga bus nya banyak dan tidak perlu lama menunggu. Kami menuju pantai / city centre Bournemouth dengan bus M1/M2 - 5 menit perjalanan ajah qaqa. Ingat, pulangnya hanya bisa dengan salah satu bus itu (gak bisa dua-duanya), aduh tapi saya lupa banget kalau mau balik ke station naik apa ya. Tips menghemat beli bus di sini adalah beli pp aja jadi gaperlu ngeteng, karena kita tidak akan menggunakan oyster TFL di kota ini. Siapkan uang cash ya.

Hal yang menarik dari Bournemouth adalah beach hut warna warni. Menurut saya sih, sehingga kita ga perlu ke pantai Brighton buat foto depan beach hut itu. Hehe. Tapi saya juga senang sekali dengan kotanya yang shantay kayak (emang beneran) di phantay. Pier nya juga jadi bikin kita merasa di San Fransisco (padahal belom pernah ke LA). 

Well, intinya, selain London itu sendiri yang ga akan ada abisnya untuk di-explore, destinasi-destinasi luar London tapi dekat dan terjangkau pun bisa jadi pilihan yang ga kalah menarik. Hal yang paling special buat kami dalam trip ini adalah hanya dengan 2 jam dari London, kita bisa memanjakan mata dengan view ala Indonesia yang kita sendiri belum pernah kunjungin. Kami jadi pengen conquer NTT dan NTB setelah ini #eaaa. Karena pasti ga kalah bagusnya kan..

Selamat jalan-jalan!








Our very first beach sand in Europe




Tuesday, 23 May 2017

Review Vendor : Rio Harlan Entertainment

Entertainment adalah salah satu vendor yang ga pakai di-survey, ga pakai ditimbang-timbang, tapi tetep nego harga hehe #canda. Bukan karena sponsor (kami bukan artis sih :D), tapi karena teman sekantor suami saya punya band wedding dan cafe kece. Jadi, pada saat kami mau nikah, ya langsung saja minta untuk teman suami bisa ikut meramaikan hari bahagia kami.  Makasih buat suami yang bantu urus bagian cowok ini, hehe saya kurang paham urusan band dan printilannya ini.

Kebetulan, band nya memang kece dan mama mertua suka ala ala jazz. Kebetulan lagi, ternyata harganya juga bagus loh :) Saya pun setelah dikasih lihat link video nya langsung oke ajah. Langsung cus ya denger dan tonton langsung di follwoing links :
Rio Harlan Entertainment yang kece gitu deh bandnya.

Apabila kamu suka dan mau menghubungi yang punya, silakan ke kontak berikut ya :
Rio Harlan 08558111423

Nah, selain informasi penting di atas, saya mau share bagaimana menghemat pos budget di entertainment ini yang mau digunakan di sasana kriya. Bagi yang sudah bisa menebak, ya memang konsekuensi punya hajat di sasana kriya adalah apabila tidak hati-hati nanti di charge lagi charge lagi. Hehe. Sehingga, perlu diperhatikan sampai detail, termasuk sampai berapa jumlah watt yang dikonsumsi band kamu.
"Kapasitas listrik yang diberikan sebesar 5.000 watt. Setiap penambahan per 1.000 watt-nya dikenakan biaya Rp 750.000,- selama acara. Maksimum kapasitas listrik yang diberikan oleh Gedung adalah 10.000 Watt setiap ruangannya, diatas 10.000 watt diharuskan mengunakan genset. Guarantee Fee untuk penambahan kapasitas listrik akan di tagihkan oleh pihak gedung sebesar Rp.1.500.000,- sebelum acara dan akan di kembalikan apabila ternyata tidak ada kelebihan listrik yang di gunakan"
Karena sasana kriya ga menyediakan sound system, jadi jangan lupa mintakan ke vendor entertainment sekalian paket sound system-nya. Berdasarkan kesepakatan yang mau tidak mau kita setujui pada poin di atas, kami pun berusaha agar tidak melebihi 5000 Watt. Nah, ternyata, 5000 Watt ini khusus untuk band. Tenang. Jangan sedih. Jadi kalau dekorasi atau foto butuh listrik, ternyata jatah mereka sudah include - jadi bukan dari 5000 Watt ini. Berangkat dari situ, suami konsultasi sama pihak band, dan untuk penggunaan Sasana Kriya Mandira, 5000 Watt cukup ajah untuk band yang sederhana. Kami juga perlu hanya jazz ala ala dan acoustic, jadi ya ndak masyalah untuk paket sebagai berikut:

Music Instruments (4 Musicians) :
i. Vocal
ii. Guitar
iii. Bass
iv. Cajon

Sound system :
i. 5000 Watt of sound system set
ii. 2 unit of wireless mic

Rio Harlan Entertainment juga punya paket untuk full band, grand piano, lebih dari satu singer, dll. Monggo ya di check ke yang punya. Hehe. Dan! Jangan lupa pastikan ada mic! Buat MC nya butuh nih. Hmfiuh. Apa lagi ya?

Well, abis itu sih tinggal teknis kapan instalasi alat, dan juga kalau mau pakai sound di akad, pastikan semua alat boleh dipakai yah dari akad sama vendornya hihi otherwise, ga kedengeran pas ada yang ngomong lantang saya terima nikah dan kawinnya.

Finally, ada PR yang harus dikumpulin loh. Haha. Kadang suka beda selera #halah sama pasangan, dan juga keluarga untuk menentukan PR ini, yaituuu..... jeng... jeng... jeng.... list lagu. Haaha. Lucu kan. Karena (salah satunya) list lagu doang, kadang (kadang loh ya) membuat acara nikahan ini jelas terlihat bukan cuma acara dua orang, atau malahan jangan-jangan "penganten" nya terkesan ga cuma sepasang. Lucu kan :D.

Selamat pilih Rio Harlan Entertainment yah dear calon pengantin :) Hihi

Thursday, 18 May 2017

Review Vendor : Dekorasi

Sebelum ingin menikah, saya merasa bahwa dekorasi pada pernikahan tidak terlalu penting. Sampai akhirnya saya harus urus ini itu untuk pernihakan saya sendiri, termasuk dekorasi, tetep dirasa alokasi budget lebih baik untuk yang lain. Saya beruntung dapat vendor sasana kriya yang ga perlu di utak atik juga udah cantik. Tapi, rupanya mama mertua ingin dekorasi yang cantik. Nah, dari pengalaman kakak ipar sebelumnya, ternyata mama udah terlanjur suka satu vendor. Hal ini dikarenakan dulu, ternyata heboh banget ngurusin dekorasi, tapi vendornya baik banget yang dulu dipakai mau menuruti semua keinginan klien.

1. Garda
Ini dia vendor pilihan mama mertua yang memang sabar banget menghadapi klien, berpengalaman, dan terpercaya. Pada dasarnya saya manut aja sih, tapi memang Garda seneng banget pake lampu LED warna warni yang kurang pas di hatiku - well, bagian ini pasti bisa di adjust sih haha. Dan sayangnya, setelah tanya pricelist, budget nya ga cucok a.k.a ketinggian. Memang masih bisa nego, tapi kalau turunnya ga banyak, kami memang belom cocok aja pada kesempatan kali ini.

Marketing : 08129081122
gardaweddingdecoration@yahoo.com

2. Kemuning
Setelah hunting beberapa vendor dan akhirnya gak sengaja lihat performance Kemuning, saya, mama mertua, termasuk suami, suka banget sama konsep gebyok modifikasi putih Kemuning. Ternyata marketingnya namanya Mas Toto (mungkin sekaligus yang punya-entahlah). Dari harga awal sampai akhirnya berkurang jadi harga mentok-tok-tok sebetulnya saya udah sreg. Karena mas toto baik dan harga nya (terpaksa) cocok (karena masih aja mayan mahal menurut eik). Komunikasi juga ga ada kendala, konsep dekorasinya pun saya suka dan baik-baik aja.

Mas Toto Kemuning : +6281283777883
kemuningdekor@yahoo.co.id

Tapi, baik dan ga bermasalah pun ga berarti bisa kerja sama, karena emang belum jodoh. Hehe. Ternyata ada vendor lain nih.


3. Tiara Dekorasi Abadi
Sekaligus share cara hunting vendor terjangkau tapi bagus, saya mau cerita nih caranya di sini. Walau bisa jadi ga sepenuhnya bener, mungkin bisa jadi inspirasi buat yang bingung mau hemat biaya nikahan.

Pertama, saya kepo baik di instagram, facebook, dan blog orang. Prioritas dicari adalah yang setema, misal kalau mau tema Jawa, ya skip aja yang spesialisasi padang, palembang, atau international. Kedua, untuk mendapatkan vendor terjangkau, cari yang paling sedikit follower dan performance-nya. Dalam hal ini bisa aja kecele sih (terjebak, terperangkap, salah sangka). Haha. Jadi, jangan-jangan saking jarang perform-nya karena kurang kooperatif dan emang mahal gitu haha atauu ya mereka aja yang ga meng-upload semua performance di social media-nya.
Ketiga, jangan ragu langsung tanya aja pricelist nya, lalu bandingkan dengan yang lain.

Dari list Sasana Kriya, Kembang Setaman menarik juga, tapi respons lama. Nah! Tiara Dekorasi Abadi ini adalah salah satu yang aku hubungin, karena jarang sekali orang pakai pada waktu itu, dan masih belum se-hits sekarang (mungkin kusalah sangka juga sih hihi). Kebetulan langsung diajak lihat performance nya di Sasono Utomo. Ternyata yang punya hajatan ngundang SBY, jadi ga heran dekorasinya pun kece banget. Menurutku bagus dan rapi. Hanya saja waktu itu, ngobrol sama Mba Opi, harganya overbudget, dan pricelist standard untuk Mandira Ballroom pun masih mahal.

Berbulan setelah diundang liat performnya, gak sengaja saya ada ujian, jadi away dari urusin nikahan bentar. Mama mertua langsung nego ke Mbak nyah dan deal dengan harga mencengangkan (turunnya lumayan) hehe. Ya akhirnya. Deal saja langsung.

Dalam prosesnya, saya juga seneng karena Mbak Opi marketing yang baik, berdedikasi (malem juga masih aja on ladenin eik), dan pinter jualan. Wakakak emang dasar. Bagian yang bikin hepi, pas hari H, ternyata mereka mengakomodir kebutuhan kami, dan dapet beberapa bonus serta upgrade (photo corner-nya jadi kece). Bahkan aku minta kursi rotan yang klasik buat akad warna putih, mereka ga punya, jadi mereka mau produksi baru loh. Iya, saya urus dekor dari mini garden pelaminan ga boleh ada gelombang cinta yang menjuntai gede-gede sampai kursi apa yang mau dipake buat akad, kain hiasan mau jumputan warna ijo (sespesifik itu), sampai juga letak pohon di mana ajah. Alhamdulillah, marketing nya bantuin banget hehe. Tiada gading yang tak retak, ada juga beberapa yang kurang pas, seperti ga ada bintang-bintang di backdrop hitam dan bawah meja akad ga ada karpet (sad).

Overall, cantik banget dekorasi acara kami tahun lalu. Senengnya sampai sekarang #halah. Bahkan, hampir semua orang bilang dekorasinya cantik, termasuk Eyang Habibie memuji dekorasi-nya, tentu setelah bilang mantennya cantik. GR boleh lah LOL!

Email. tiaradekorasiabadi@gmail.com;
Facebook: tiaradekorasiabadi
IG : tiaradekorasiabadi
Bridestory: Tiara Dekorasi Abadi















Tuesday, 16 May 2017

Review Vendor : Fotografi

Ini adalah salah satu pencarian vendor wedding yang membuat saya terkaget-kaget. Alasannya adalah ga disangka-sangka (ternyata) vendor fotografi mahal juga. Apalagi di Sasana Kriya vendor fotografi harus rekanan sehingga sudah ada standard harga pastinya yang mentok kalau mau diutak-atik. Terbukti dari ketika tanya sana-sini kurang lebih harganya berkisar antara itu-itu saja. Walau, pasti ada lah vendor-vendor yang harganya lebih mahal dibanding dengan yang lain.

Pertimbangan calon pengantin pasti beda-beda ya dalam memilih vendor foto. Kalau untuk saya pribadi asalkan saya senang dengan hasilnya dan tetap terjangkau. Hasilnya bisa dilihat di instagram, youtube untuk video, facebook, atau mungkin review dari orang lain. Nah, senang nya orang beda-beda, jadi masalah taste aja sih foto tuh, ada yang senengnya foto natural, terang ala ala surgawi, atau gelap-gelap sephia, redup drama, yah macem-macem. Asal klik dan deal nya cocok, sikat aja lah. Masalah output sih bisa dibicarakan, siapa tau ada bonus-bonus tambahan.

1. Wong Akbar
Tau dari Wong Akbar sebetulnya malah dari kawinan orang-orang yang kalau lagi datang test food, sering kali kangfotonya wong akbar. Hehe jadi penasaran dan liat galeri instagramnya, suka deh. Langsung aja lah tanya ke marketingnya dan dibalas cukup cepat dengan paket pricelistnya.

Sebetulnya paket yg ditawarkan cukup menarik karena lagi ada paket free pre-wedding atau free photobooth. Tapi, saya sudah punya vendor foto pre-wedd dan ga memerlukan vendor photobooth. Jadi, sayang sekali paket yang ditawarkan relatif lebih mahal bila dikurangin 2 items tersebut.

Kesimpulannya sih harga ga masuk di kantong :D

2. Pasopati
Pertama kali nemu pasopati ini pas lagi ada diskon paket basic seharga 15.500k. Di mana itu harga paling murah yang saya temui selain Batavia photo (ps: di antara rekanan sasana kriya). Tapi setelah dilihat ternyata produknya ga cover semua, misal, belum ada screen, same day edit, dan print foto cantik yang diperbesar :D. Setelah dihitung dengan memasukan semua komponen yg dimau, more or less sama dengan vendor yang aku lebih suka hasil fotonya di instagram. Jadi lah ku ga jadi pilih vendor ini.

3. Maknafoto
Mirip sama ketemu jodoh, ketemu Maknafoto ini ga sengaja dan tanpa ditebak. Setelah pasrah cari-cari vendor yg tak kunjung sesuai dengan kantong, kebutuhan, dan juga selera foto, saya beranikan diri untuk tanya marketing wong akbar buat nego, tapi gatau nya malah diinfoin ada vendor yang sesuai budget tapi tetep bagus Maknafoto.

Langsung aja nego sama mas Agus yang siap sedia walau udah malam tetep ditanya dan diganggu, doi jawab aja semuanya. Dan cocok.
Overall, hasil dari maknafoto ini bagus, relative cepat, tapi ada hal yang di rasa kurang. Yaitu saya dijanjikan ada fotografer yang stand by untuk foto keluarga di booth, tapi sayangnya ga semua kepotret. Mungkin ga fully kekurangan dari vendor fotonya, bisa WO, bisa pihak keluaarga yg ga mau difoto, atau manten nya yang lupa koar-koar tolong foto di booth saking banyaknya yang diurusin :D. Saya juga dapat customize box storage album yang bisa memajang undangan, souvenir, dan buku pengajian, tapi nyatanya kurang bagus dibanding dengan box kayu exclusive. Ini koordinasi antara maknafoto sama saya kayaknya miss. Mereka ga nunjukin sebelunya bakal jadi kayak apa, saya nya juga sudah sibuk kuliah jadinya ga kepegang.

Well, saya tetep seneng sama hasil VIDEO dan foto nya! Bagus banget deh. Hepi. Bahkan, saya minta edit perintilan yang mungkin bagi orang ga penting, tapi bagi saya penting, mas produksi nya mau, yey.. Sampai saya juga minta pre-set warna saking saya mau hasil fotonya ga gelap redup, dan tetep cerah tapi terlihat natural.

Oiya, kebetulan saya ambil prouduk same day edit yang menampilkan acara akad nikah kita pada saat resepsi kita. Saya ga expect banyak karena kerjainnya cuma sejam dua jam. Tapi, so far, ini produk yang paling memuaskan dari Maknafoto buat kami (menurut saya sih). Berikut hasil same day edit yang saya seneng banget nontonya:


Kalau ini foto keluarga di pelaminan:




#. Superbeng Photo
Kalau vendor ini vendor khusus prewedding dan acara rumah. Ga perlu diragukan lagi bagus dan service memuaskan. Saya ga perlu survey kalau ini, sudah ditentukan dari awal saking bagusnya vendor ini, tinggal nego aja harga dan produknya. Tapi, mereka juga motret di acara akad nikah saya, dan bagus dong hasilnya. Apalagi sekarang menurut saya sudah makin berkembang baik skill motret dan juga lensa serta kameranya hahaiiii. Terlepas dari yang punya teman saya, saya sangat subjektif menilai. Bagi yang penasaran bisa kepo di sini dan di sininih.

 




Jadi, menurut saya sih, dalam mencari vendor foto, yang perlu diperhatikan adalah hasil foto mereka. Apakah kalian suka atau ngga. Selain itu, tentu produk yang mereka tawarkan. Minta bonus paling mudah adalah perbesaran kanvas, karena relative lebih murah dibanding bonus screen kali ya :) Perlu photobooth atau ga, saya sih pribadi yang kalau dateng nikahan ga prefer antri foto di booth, toh saya ga pajang semua hasil fotonya, cuman numpuk aja. Jadi kami putuskan ga kasih photobooth karena toh dah ada souvenir juga kalau niatnya mau kasih kenang-kenangan. Depends sih sama preferensi.
Selain itu, pastikan pula jenis kertas albumnya yang kamu mau apa. Apakah itu photo paper atau (so called) magazine. Saya pribadi lebih senang magazine karena tipis walau perawatan mungkin akan lebih rumit. Apakah perlu pake jimmy jib (kamera gede muter-muter kayak di tv itu loh) atau ngga. Apakah perlu prewedding atau ngga - jangan-jangan ga perlu amat.

Nah! Kalau kamu mau prewedding, outdoor pula, perhatikan tempat dan durasi foto, jangan sampai ada extra charge karena ternyata foto-foto gitu doang bisa makan waktu lama loh :) Tapi untungnya saya foto sama Superbeng Photo, mereka baik banget #teteup.